Pemuda Dan Budaya Literasi



Foto: kopi hitam di Warung kopi. Penulis,  E.F. profesi nguli tinta di LPM Afkar


Opini,Afkar.com ~ Sang proklamator Indonesia, Lr. Soekarno mengatakan “Barang siapa ingin mutiara, harus berani terjun di lautan yang dalam.” Sedangkan, Sherry K. Plummer menyatakan “Dengan membaca buku, engkau bisa menjelajahi dunia tanpa harus meninggalkan kursimu.”

Sudahkah pemuda melakukan perubahan dalam dirinya? Sudahkah aktivitas mu diisi dengan budaya literasi? Tentunya, mereka akan mengelak dengan kenyataan sebenarnya apabila ditanya bahkan minder atas pertanyaan tadi. Tanda mereka menyadari selama satu hari satu malam tidak menyisihkan waktunya mengasah potensi dalam dunia literasi.

Sangat disayangkan identitasi pemuda selalu diagung agungkan serta menjadi tunas bangsa dalam estafet kepemimpinan masa depan. Mereka hanya berpikir instans dan tidak merenungkan prospek masa depan yang menjadi beban moral sebagai peran pemimpin masa depan yang ditunggu oleh masa depan bangsa nantinya.

Iya, pemuda sangatlah menentukan nasib bangsa 20 tahun kedepan karena bangsa menaruh harapan besar padanya. Mirisnya persoalan yang ada pada pemuda sekarang dan menjadi kebiasaan di tubuh pikiran, sikap dan tingkah laku pemuda.

Pertama, dibutakan dengan gadget dibandingkan buku literasi ilmiah. Mayoritas persoalan pemuda digandrungi hal tersebut sehingga tidak bisa membagi porsi waktu yang efisien antara keduanya. Pada saat mencari referensi Lebih sering mengandalkan gadget yang serba instans tanpa tahu latar belakang maksud dan tujuan sebenarnya yang lebih kongkret.

Pasalnya, Kurang elegan dan berseni dalam berargumentasi/berdialektika. Karena minat baca lebih tinggi dari pada daya bacanya. pada dasarnya siapapun yang beropini dan berargumentasi pasti bisa akan tetapi, jarang ditemukan menggunakan referensi yang konkret.
Kedua, cenderung menikmati dunia glamor westernisasi dibandingkan dengan aktivitas diskusi/kajian, bedah buku, seminar dan lain sebagainya. Oleh karena itu, tanggung jawab sebagai peran pemuda hanyalah sebatas tekstual saja.

Pada akhirnya menjadi bobroknya moral yang kelewatan batas “prematur” (dewasa belum waktunya) dan  mayoritas pemuda sudah terjerumus oleh budaya ke barat baratan mulai dari pola pikir, moral/etika dan tingkah laku yang sudah diadopsi oleh mereka melalui media teknologi yang sangat leluasa dilihat, dirasakan dan direpresentasikan dalam kehidupan sehari hari sehingga terbiasa terdoktrin secara implisit apabila mereka tidak mampu mengfilter dalam logika, moral dan estetika kehidupan sehari harinya. Penyebabnya adalah lemahnya budaya literasi yang kurang dimanfaatkan secara maksimal.

Ketiga, persoalan sangat telak bagi  mereka yang sadar. tapi, tidak menyadari karakter serta peran pemuda sebaik mungkin tanpa dibuktikan dalam karakter dan sikapnya. Sering hal tersebut dirasakan oleh mereka yang tidak berevolusi mental. Tentunya, jadi, PR besar untuk  mereka  dalam mempertanggung jawabkan identitas sakral bagi dirinya dengan belajar yang tekun dan konsisten.

Saya pribadi mengajak dan mengingatkan kepada pembaca untuk lebih meningkatkan kualitas diri kita sebagai pemuda dalam membudayakan literasi. Karena makna literasi tidak hanya sekedar membaca akan tetapi mempunyai dedikasi tinggi buat kualitas pola pikir kita, moral, tingkah laku dan peka terhadap persoalan yang ada di sekitar kita.  Salam Literasi!

0 Response to "Pemuda Dan Budaya Literasi"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Media Kalbar
Foto: PT Riau Wisata Hati (RWH) buka paket Umrah Murah di bulan Ramadhan penuh berkah.

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel