Mulut Apa Jari Yang Harimau?
Penulis: S. A,
Opini.Afkar.com~ Ide dan gagasan selalu muncul dari benak insan yang bernyawa. Entah setiap detik, menit, jam bahkan hari. Hal itu menandakan akal manusia normal (mungkin, he).
Begitu pula sebaliknya. Rasa kesal, marah bahkan muak (ontep, Madura Red) tak jarang menghampiri fikiran. Bahkan masuk dalam hati. Hal itu juga tak mengenal waktu dan tempat. Tanpa disengaja, tiba- tiba datang kegundahan dan perasaan ingin muntah.
Belum lagi yang kena penyakit dalam (bukan secara medis). Seperti perasaan jatuh hati (cinta katanya red) kepada lawan jenis. Banyak yang morang muring tak karuan. Layaknya Rahwana pada Dewi Sinta (hee).
Semua itu wajar bukan. Walaupun ada yang tak setuju tak apa- apa. Adapun jikalau ada yang sepakat, itu biasa aja (gak ada yang waw dan Amzing).
Pastinya, apa yang terbenam dalam benak, fikiran dan hati ingin diungkapkan. Walaupun hanya sekejap mata. Syukur- syukur, bisa dinikmati orang lain (untuk didengarkan) dan mempengaruhi apa yang dipendamnya (walaupun hanya dianggap angin lewat).
Lagi- lagi, hal itu wajar. Menilik era purba (anggaplah purba itu sebelum lahir dan mengenal kecanggihan tekhnologi, gak setuju gak apa apa, gitu aja kok repot). Menyampaikan ide dan gagasan, kebanyakan bicara di forum- forum resmi. Sepeti forum seminar, diskusi, kuliah umum dan sejenisnya. Paling rendah, menyampaikan hasil pemikirannya diwarung kopi (walaupun tanpa kopi).
Begitu pula rasa jengkel, marah muak akan suasana yang tampak dihidangkan. Hal itu kerap kali dilontarkan ditempat yang perlu pendengar setia. Maka ungkapan ' Mulutmu harimaumu' menjadi tranding topik dan buming kala itu.
Tak jarang pesan sesepuh, tokoh, guru, orang tua berpesan agar kita hati- hati dalam mengucapkan sesuatu. Biar tak menimbulkan konflik (Baik sifatnya hanya sesaat maupun berkepanjangan).
Kalau sekarang, mengungkapkan sesuatu begitu gampang dan mudah, tak kenal waktu dan tempat. Apalagi forum resmi yang berjejer kursi empuk (atau lesehan). Tak perlu pejabat publik hadir mendengarkan secara langsung (sambil menikmati cemilan kalau ada syih).
Walaupun dalam keadaan makan (mulut sambil mengunyah nasi), apa yang ada dibenak bisa tersampaikan kepada publik (sakti bukan, hee). Apalagi sedang mengeluarkan isi perut (kalau bahasa bengkel, buang oli ganti oli, ajerukkong, madura red).
Luar biasa era post modernisasi- globalisasi- tekhnologi saat ini bukan. Tak hanya satu desa bisa terhubung 24 jam. Bahkan se- dunia. Kalau dulu menggunakan ilmu telepati untuk interaksi jarak jauh (kalau liat film Angling Dharma dan Mak lampir Syih). Itupun harus bertapa (bersimedi berhari- hari bahkan tahunan).
Kalau sekarang, cukup datang ke- toko, beli HP, Kartu perdana, isi pulsa (itu hp yang jadul) bisa menerapkan ilmu telepati (telepon). Seiring berkembangan, ternyata ilmu telepari terus punya tingkatan kesaktian, (hee).
Kalau dulu mungkin harus bertapa lagi. Bahkan mengembara dan mencari empuh yang saktinya mandera guna (Prabu angling Dharma gitu). Namun kesaktian telepati saat ini tinggal siapkan pecahan rupiah yang cukup untuk mendapatkan kesaktian dijagad raya.
Datangi gua (toko) yang terkenal menyediakan alat pedang kesaktian (HP). Pilih dan tumpas penjaganya (bayar sesuai harga). Isi paket, donwloed aplikasi media sosial yang dibutuhkan. Lalu kembalilah ke kerajaannya (tempat kebangaan). Tanpa waktu lama, sudah bisa melakukan komunikasi dengan siapapun (telepati ala sekarang).
"Jarimu Harimaumu," (hee). Ungkapan itu Layak sekarang digaungkan (setuju atau gak gak ngaruh). Tanpa batas, jari- jari kita bergereliya tanpa batas menyusuri layar HP. Buka aplikasi Fb, WA, IG dan saudara- saudaranya. Mulailah jari memencet satu persatu huruf yang tertera pada layar.
Komunikasi secara personal (chat pribadi), nulis didinding FB buat Status, wa maupun IG dilakukan. Semua dituliskan dengan mesin canggih itu (hee). Mulai dari menuangkan ide- gagasan, perasaan bahagia maupun sengsara, bahkan luapan amarah dan muak dituliskan. Tanpa harus pakek pengeras suara, apa yang ditulis di sare. Pastinya langsung terpangpang layaknya pengumuman di trotoar.
Dalam hitungan detik, like dan komentar berdatangan. Ungkapan yang digoreskan melalui dinding layar langsung tersalurkan tanpa tirai penghalang. Begitu banyak warna warni ungkapan dari masing- masing individu. Parahnya, hujatan dan mengundang permusuhan kerap kali ditemukan. Sampai - sampai ada yang ngaja berantem bahkan duel melalui medsos (lucu bukan, hee).
Ada yang berfatwa, ada yang menasehati, bahkan ada yang memfonis neraka. Itu ditemukan di dunia yang disebut medsos. Apakah ini berimplikasi baik atau sebaliknya, entahlah (hee, gak mau mikir terus, capek bos). Namun, tak jarang orang masuk bui gara- gara besi dan kaca yang tersedia huruf abjad. Mirisnya, (hee, ngutip kalimat yang disampaikan bidadariku) ada yang sampai nyawanya melayang.
Berarti, mulut dalam menyampaikan ucapan kalah powernya dibandingkan jari- jari. Jarang ditemukan mulut melontarkan sesuatu (saat ini) great-nya membuat seseorang terpengaruh bahkan ketakutan (kalau raja dulu ketika berucap jawabnya sendiko dawuh). Sekarang, cukup ngetik dan post di dinding HP yang bisa tersalurkan terhubung dengan internet (gak ada paket cari Wifiee).
Tak ada kesimpulan dalam tulisan ini. Bahkan ilmu yang berarti. Cuma ingin menyampaikan, " Mulutmu Harimaumu dan Jarimu Harimaumu mana yang lebih pas saat ini. Apalagi keduanya disandingkan.


0 Response to "Mulut Apa Jari Yang Harimau?"
Posting Komentar