Refleksi Idul Adha, Sifat Istimewa Nabi Ibrahim AS dan Putranya
Foto: Siti Nur Faisah, masih aktif di LPM Afkar
Opini,Afkar.com~ Idul adha merupakan momentum terbesar ketaatan manusia (muslim) terhadap Allah SWT yang direpresentasikan melalui penyembelihan hewan kurban. Momentum penyembelihan hewan kurban menjadi sebuah refleksi atas (keistimewaan) ketabahan Nabi Ibrahim dengan kerelaan serta kesungguhan hatinya, yang bersedia mengorbankan putranya Ismail untuk Allah karena perintahnya.
Meskipun akhirnya Allah SWT menggantikan dengan seekor domba.
Peristiwa mengharukan itu diabadikan oleh Allah SWT di dalam Al-quran surat Al-Shaffat ayat 102-109. Dari itulah asal mula dilaksanakan hari raya kurban.
Dengan adanya kisah Nabi Ibrahim dan Ismail anaknya ini menjadikan panutan dan tolak ukur bagi kita untuk tetap sabar dalam menjalankan perintah Allah. Sudah seharusnya kita mendahulukan kecintaan serta pengabdian kepada sang pencipta daripada nafsu duniawi.
Jangan sampai hidup yang terlalu mencintai duniawi daripada mecintai Allah. Dunia adalah kesenangan semu yang bisa menjerumuskan kita pada kesesatan. Dengan besarnya cinta kita pada Allah akan membuat hidup lebih tenang dan damai.
Berqurban adalah alternatif kita untuk menyucikan harta. Dulunya kita mencari nafkah tak kenal lelah dan susah, maka pada hari ini kita dianjurkan berkurban untuk membersihkan harta kita.
Selain itu, kita sebagai makhluk tuhan yang tidak bisa hidup individual tentunya harus saling peduli satu sama lain. Pada hari raya qurban inilah kita diajarkan untuk saling berbagi.
Berqurban adalah suatu bentuk keikhlasan dalam berbagi terhadap sesama tanpa mengharapkan balasan apapun. Berqurban juga dapat menjauhkan dari sifat-sifat buruk seperti tamak dan kikir. Berqurban menjadikan kita manusia yang rendah hati, dermawan, dan selalu peduli terhadap sesama.
Kehidupan saling tolong menolong dalam kebaikan merupakan ciri khas ajaran Islam. Islam selalu mengajarkan kebaikan bagi umatnya. Bagi orang yang mengikuti ajaran islam akan selamat dunia akhirat, tapi sebaliknya bagi siapa yang ingkar tidak pernah mendapatkan ketentraman hidup.
Hikmah yang dapat dipetik dalam konteks ini adalah seorang Muslim diingatkan untuk melihat kebawah dan bersedekah untuk kedamaian hati serta kebahagiaan orang lain.
Disamping itu, Idul adha juga dinamakan hari raya haji. Ibadah haji merupakan ibadah yang sangat mulia dan dianggap sebagai pelengkap keislaman kita di hadapan Allah Swt.
Tidak semua umat Islam dapat melaksanakan rukun islam yang kelima ini. Allah Hanya mewajibkan umat islam yang sudah mampu melaksanakan haji untuk pergi kebaitullah.
Sebagaimana firmannya: Artinya: “Berhaji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa yang mengingkarinya, maka sesunguhnya Allah Maha Kaya.”
Lebaran haji adalah sebuah simbol kekuatan islam itu sendiri. Memberikan gambaran tentang betapa kuatnya ideologi dan sejarah. Ritual ibadah haji terus diikuti, dilaksanakan sampai dengan abad modern ini. Tetap berlangsung, tidak tergerus oleh teknologi dan perubahan zaman.
Karena sejatinya ibadah haji merupakan substansi dari kehidupan manusia untuk merefleksikan dirinya agar menjadi lebih baik menuju insan kamil serta meneguhkan hati dengan kuatnya iman dihati. Meskipun haji bukan tolak ukur ketaqwaan seorang muslim namun,merupakan barometer pendekatan yang haqiqi pada sang ilahi.
Ketika manusia berfikir rasional maka akan terlihat makna kehidupan dari ibadah itu sendiri. Ibadah haji mengantarkan manusia kepada pengalaman kemanusiaan yang universal, sebab haji menyampaikan pesan persamaan kemanusiaan.
Dalam ibadah haji muslim mengenakan pakaian seragam yaitu pakaian ihram yang putih sebagai lambang kerendahan hati. Pakaian ihram,jika direnungkan hal tersebut mencerminkan bahwa manusia dengan manusia lainnya di hadapan Alloh adalah setara.
Tiada yang berhak mengklaim dirinya lebih dari manusia lainnya, kecuali dalam pencapaian penyerahan dirinya (ketaqwaannya).
Mahasiswa aktif Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris
Opini,Afkar.com~ Idul adha merupakan momentum terbesar ketaatan manusia (muslim) terhadap Allah SWT yang direpresentasikan melalui penyembelihan hewan kurban. Momentum penyembelihan hewan kurban menjadi sebuah refleksi atas (keistimewaan) ketabahan Nabi Ibrahim dengan kerelaan serta kesungguhan hatinya, yang bersedia mengorbankan putranya Ismail untuk Allah karena perintahnya.
Meskipun akhirnya Allah SWT menggantikan dengan seekor domba.
Peristiwa mengharukan itu diabadikan oleh Allah SWT di dalam Al-quran surat Al-Shaffat ayat 102-109. Dari itulah asal mula dilaksanakan hari raya kurban.
Dengan adanya kisah Nabi Ibrahim dan Ismail anaknya ini menjadikan panutan dan tolak ukur bagi kita untuk tetap sabar dalam menjalankan perintah Allah. Sudah seharusnya kita mendahulukan kecintaan serta pengabdian kepada sang pencipta daripada nafsu duniawi.
Jangan sampai hidup yang terlalu mencintai duniawi daripada mecintai Allah. Dunia adalah kesenangan semu yang bisa menjerumuskan kita pada kesesatan. Dengan besarnya cinta kita pada Allah akan membuat hidup lebih tenang dan damai.
Berqurban adalah alternatif kita untuk menyucikan harta. Dulunya kita mencari nafkah tak kenal lelah dan susah, maka pada hari ini kita dianjurkan berkurban untuk membersihkan harta kita.
Selain itu, kita sebagai makhluk tuhan yang tidak bisa hidup individual tentunya harus saling peduli satu sama lain. Pada hari raya qurban inilah kita diajarkan untuk saling berbagi.
Berqurban adalah suatu bentuk keikhlasan dalam berbagi terhadap sesama tanpa mengharapkan balasan apapun. Berqurban juga dapat menjauhkan dari sifat-sifat buruk seperti tamak dan kikir. Berqurban menjadikan kita manusia yang rendah hati, dermawan, dan selalu peduli terhadap sesama.
Kehidupan saling tolong menolong dalam kebaikan merupakan ciri khas ajaran Islam. Islam selalu mengajarkan kebaikan bagi umatnya. Bagi orang yang mengikuti ajaran islam akan selamat dunia akhirat, tapi sebaliknya bagi siapa yang ingkar tidak pernah mendapatkan ketentraman hidup.
Hikmah yang dapat dipetik dalam konteks ini adalah seorang Muslim diingatkan untuk melihat kebawah dan bersedekah untuk kedamaian hati serta kebahagiaan orang lain.
Disamping itu, Idul adha juga dinamakan hari raya haji. Ibadah haji merupakan ibadah yang sangat mulia dan dianggap sebagai pelengkap keislaman kita di hadapan Allah Swt.
Tidak semua umat Islam dapat melaksanakan rukun islam yang kelima ini. Allah Hanya mewajibkan umat islam yang sudah mampu melaksanakan haji untuk pergi kebaitullah.
Sebagaimana firmannya: Artinya: “Berhaji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa yang mengingkarinya, maka sesunguhnya Allah Maha Kaya.”
Lebaran haji adalah sebuah simbol kekuatan islam itu sendiri. Memberikan gambaran tentang betapa kuatnya ideologi dan sejarah. Ritual ibadah haji terus diikuti, dilaksanakan sampai dengan abad modern ini. Tetap berlangsung, tidak tergerus oleh teknologi dan perubahan zaman.
Karena sejatinya ibadah haji merupakan substansi dari kehidupan manusia untuk merefleksikan dirinya agar menjadi lebih baik menuju insan kamil serta meneguhkan hati dengan kuatnya iman dihati. Meskipun haji bukan tolak ukur ketaqwaan seorang muslim namun,merupakan barometer pendekatan yang haqiqi pada sang ilahi.
Ketika manusia berfikir rasional maka akan terlihat makna kehidupan dari ibadah itu sendiri. Ibadah haji mengantarkan manusia kepada pengalaman kemanusiaan yang universal, sebab haji menyampaikan pesan persamaan kemanusiaan.
Dalam ibadah haji muslim mengenakan pakaian seragam yaitu pakaian ihram yang putih sebagai lambang kerendahan hati. Pakaian ihram,jika direnungkan hal tersebut mencerminkan bahwa manusia dengan manusia lainnya di hadapan Alloh adalah setara.
Tiada yang berhak mengklaim dirinya lebih dari manusia lainnya, kecuali dalam pencapaian penyerahan dirinya (ketaqwaannya).
Mahasiswa aktif Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris


0 Response to "Refleksi Idul Adha, Sifat Istimewa Nabi Ibrahim AS dan Putranya "
Posting Komentar